Karangan DR.
Limas Dodi, M.Hum.
BAB I
SEJARAH FILSAFAT
Filsafat secara
etimologis diambil dari 2 kata yaitu Falsafah (arab) dan Philosophy ( Inggris)
yang artinya Philos = Cinta dan Sophy = Bijaksana, Cinta Kabijaksanaan. Secara
praktis, Filsafat adalah alam pikiran atau alam berpikir, namun tidak semua
kegiatan berpikir itu berfilsafat. Bisa dikatakan pula bahwa filsafat adalah
studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara
kritis dan mendasar(radikal). Seorang yang berfilsafat dinamakan filosuf atau
orang-orang yang cinta kebijaksanaan. Berfilsafat adalah berpikir atau
memikirkan sesuatu secara mendalam dan bersungguh-sungguh hingga ke
akar-akarnya dan sistematis.
Tanda-tanda berpikir Filsafat :
- Radikalitas adalah berpikir mendalam tentang menemukan suatu hakikat dari persoalan.
- Komperehensivitas adalah berpikir tentang segala hal aspek yang berkaitan dengan persoalan tersebut, karena setiap persoalan tidak hanya terdiri atas satu variabel tapi dari beberapa variabel.
- Integralitas adalah berpikir sistematisasi berbagai aspek dari suatu persoalan menjadi suatu keutuhan.
Awal munculnya filsafat
adalah ketika adanya para filosof-filosof yunani yang memikirkan sesuatu
persoalan, dan disanalah awal mula filsafat itu ada, karena filsafat sendiri
adalah proses berpikir para filosof-filosof/ para pemikir.
Umumnya sejarah
filsafat dibagi menjadi lima periode, yaitu periode Pra-sejarah, periode
Klasik, periode Pertengahan, periode Modern dan periode Konteporer.
- Periode Pra-Sejarah adalah periode paling awal menurut para filosof, periode Pra-Sejarah ini sekitar 7 dan 6 SM di Yunani kuno. Ketika Thales dan kawan-kawan mencoba menjawab asal-usul alam semesta dengan cara rasional yang kemudian tradisi berpikir ini oleh Phitagoras disebut Philoshophia. Thales dan para pemikir pada waktu itu tidak menyebutnya sebagai filsafat, namun cara-cara berpikir mereka yang baru dalam mengerti dunia berbeda dengan cara orang-orang yang mengerti dunia dengan mitos-mitos yang ada ini oleh orang setelanya dinamai aktivitas berpikir awal yang disebut filsafat.
- Filsafat dalam Periode Klasik adalah periode setelah periode Pra-Sejarah. Periode ini ditemukan beberapa filosof besar yang sangat banyak memberi kontribusi besar terhadap dunia filsafat dan ilmu pendidikan.Pada yunani periode sebelum Socrates, yaitu sekitar 600-400 SM. Pada masa ini para filosof lebih dikenal sebagai ilmuan dan agamawan seperti Phytagoras. Setelah masa itu munculah periode Yunani Trio filosof, yakni sekitar 500-300 SM. Trio filosof itu diantaranya adalah “Socrates, Plato dan Aristoteles” yang merupakan periode filosof legendaris. Setelah masa trio filosof berakhir, berikutnya adalah masa penerus 3 filosof legendaris, yaitu dimana filosof dimasa ini meneruskan dan mengembangkan pemikiran-pemikiran para filosof di masa sebelumnya
- Filsafat dalam periode Pertengahan adalah zaman atau abad keemasan bagi keagamaan utamanya kristen. Yaitu sekitar abad 8-15 SM, agama(kristen) bersifat dogmatik cenderung menolak keberadaan filsafat dan ilmu, dianggap gerejala pusat kebenaran. Ini yang menebabkan ilmu pengetahuan dan filsafat mengalami kemunduran.
- Filsafat periode Modern sekitar abad 16-19. Pada zaman ini dimana membalikkan paradigma pada masa Pertengahan yang memandang alam semesta dalam logika hierarki atau wujudnya tersebut berujung dan kembali pada tuhan, tetapi pada masa ini para filosof menghubungkan keberadaan tuhan dengan penyingkapan pengetahuan.
- Filsafat periode Konteporer adalah pemikiran pada masa saat ini yang telah mencangkup berbagai hal atas segala aspek yang di rumuskan dalam suatu pemikiran
.
.
BAB II
FILSAFAT SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN
Filsafat sebagai Pandangan hidup
Pandangan hidup adalah pendapat atau pertimbanganyang dijadikan pedoman atau
petunjuk di dunia. Pandangan itu bersifat kodrati karena itu menentukan masa
depan seseorang.
Pandangan hidup dapat di klasifikasihan berdasarkan
asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
- Pandangan hidup dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
- Pandangan hidup berupa ideologi yaitu pandangan yang disesuaikan dengan budaya dan norma di suatu negara.
- Pandangan hidup dari hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.
Dalam berpandangan hidup manusia harus memiliki
langkah-langkah berikut, yaitu: Mengenal, Menghayati, Meyakini dan Mengabdi.
Mengenal adalah tahap pertama seseorang dalam menentukan pandangan hidupnya,
yang kedua menghayati, menghayati dalam arti memperoleh gambaran tentang apa
pandangan hidupnya tersebut, yang ketiga meyakini yaitu cara untuk memperoleh
kepastian dan yang terakhir mengabdi yaitu sesuatu yang telah dibenarkan dan
diterima baik oleh seseorang tersebut lebih-lebih orang lain dan seseorang
tersebut pun dapat merasakan manfaat dari tujuan hidupnya tersebut.
Manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana
kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan.
Ada yang memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan dan ada
pula yang memperlakukan pandangan hidup sebagai penimbul kesejah teraan,
tekentraman dan sebagainya.
Filsafat diartikan sebagai pandangan hidup karena filsafat pada
hakikatnya bersumber pada kodrat pribadi manusia. Dan filsafat sebagai
pandangan hidup karena merupakan suatu yang dijadikan dasar atas semua tindakan
dan tingkah laku dalam keseharian manusia tersebut.
Filsafat sebagai ilmu pengetahuan
Ilmu
adalah kumpulan pengetahuan, pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan
akal serta budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum
pernah ia rasakan sebelumnya. Pada hakikatnya setiap ilmu memiiki objek
begitupun filsafat. Cangkupan filsafat lebih luas dibanding ilmu, karena ilmu
hanya terbatas pada masalah empiris tertentu saja, sedangkan filsafat juga
mencangkup hal-hal empiris dan metafisika. Selain itu secara historis
membuktikan bahwa ilmu berasal dari kajian filsafat karena awalnya filsafatlah
yang melakukan pembahasan tentang segala hal yang sistematis, rasional dan
logis, termasuk empiris. Dengan demikian filsafat disebut-sebut sebagai induk
dari ilmu-ilmu yang sekarang.
Perbedaan Filsafat dengan Agama
Filsafat
dan agama adalah dua pokok yang persoalan berbeda. Agama merupakan ajaran
mengenai hubungan antara manusia dan Yang Maha Kuasa. Sedangkan filsafat
sendiri adalah pemikiran atau ilmu yang diperoleh dari suatu pemikiran. Agama
tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang tidak
terlalu memperhatikan aspek logisnya. Berbeda dengan agama, pembahasan filsafat
lebih membahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur, apakah itu
logis atau tidak. Dalam filsafat lebih berhubungan dengan pikiran yang dingin
dan tenang sedangkan agama banyak hubungannya dengan hati.
BAB III
CIRI-CIRI FILSAFAT
A. Filsafat Timur
Filsafat India
India umumnya dikenal sebagai asal dari agama Hindu dan
Buddha. Filsafat India terkenal dengan filsafat spiritual yang sangat kaya dalam
menunjukkan petunjuk ideal tentang hidup. Filsafat India tidak hanya menyajikan
intelektualitas tapi juga menyentuh jantung eksistensi yang mengarah pada
perbaikan diri. Berikut pembagian periode filsafat di India :
1. Zaman
Weda (2000-600 SM)
2. Zaman
Skeptisisme (600-300 SM)
3. Zaman Puralisme (300-1200)
4. Zaman Muslim (1200-1757)
5. Zaman Modern (setelah 1757)
Filsafat China
Filsafat Cina Pemikiran Cina dapat disimpulkan bahwa
antara teori dan pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan , bertolak dari semacam
humanisme pemikiran filosof Cina etika dan spiritual menyatu padu. Dan
dapat terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
- Konfusius adalah ajaran yang lahir atas keprihatinannya akan situasi sosial dan poltik pada saat itu. Maka tidak heran pembahasan utama konfusius tentang tidak adanya disparitas antara hak pribadi dan kepentingan umum. Bagi konfusius kekacauan ini timbul karena Li kehilangan jiwanya. Untuk menghidupkan kembali Li berarti menghidupkan kembali ritual dan musik dengan berdasarkan Ren (kebaikan hati atau kasih sayang sesama manusia). konfusius dalam arti yang lebih luas daripada ritual dan ritus yaitu segala sesuatu yang terkait pada tindakan manusia atau etika.
- Taoisme adalah ajaran yang lebih tertuju pada Metafisika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao.
- Mencius dan Xunzi, memabangun kembali dan mengembangkan Konfusianisme yang bermula dari Konfusius. Seperti Konfusius, Mencius mendasarkan ajarannya pada Ren, tapi iya menyatakan bahwa untuk membina Ren harus mengembangkan yi atau kebaikan.
- Mohisme, aliran ini lebih mengutamakan secara khusus keberuntungan Li dan pencapaian Kung. Berbeda dengan aliran konfusius yang mementingkan relasi yang tepat Li tanpa mementingkan Kung.
- Daoisme, pengikut ajaran ini berpendapat bahwa cara terbaik untuk hidup adalah menarik diri dari peradaban dan kembali kepada alam, dari keadaan beradab ke keadaan alami. Pemikiran naturalistic yang dikenal sebagai Daoisme yang menjunjung tinggi Dao dan alam.
- Neo Konfusianisme adalah bentuk konfusianisme yang terutama dikembangkan selama Dinasti Song, namun aliran ini baru muncul dipermukaan pada masa dinasti Tang lewat Han Yu dan Li ao. Mereka membuka cakrawala baru yaitu Neo Konfusianisme yaitu dimensi kosmologis dalam refleksi mereka.
Filsafat Islam
Filsafat Islam adalah berpikir secara sistematis,
radikal dan universal tentang hakekat segala sesuatu berdasarkan ajaran
islam.singkatnya filsafat Islam itu adalah filsafat yang berorientasi kepada al
Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi terhadap wahyu Allah.
B. Filsafat Barat
Filsafat Yunani
Filsafat yunani muncul kira-kira sejak abad 6 SM,
mempunyai sistem kepercayaan bahwa segala sesuatu yang bersumber dari
dongeng-dongeng atau mitos-mitos yang berlaku dalam masyarakat harus diterima
sebagai kebenaran yang mutlak dan tidak perlu dipertanyakan kembali. Pasca abad
6 SM, mulai bermunculan para pemikir yunani yang menentang adanya sistem
kepercayaan yang berdasar pada mitos. Mereka mulai mempertanyakan wujud sesuatu
dan sebab dari sesuatu itu, dalam arti mereka telah mendudukkan akal pada
posisinya. Filsafat barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di
Universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filafat ini
berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno. Dalam filsafat barat secara
sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar yakni:
- Bagian filsafat yang mengkaji tentang ada (being).
- Bagian filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistimologi dalam arti luas).
- Bagian filsafat yang mengkaji nilai-nilai menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi).
BAB IV
SISTEMATIKA FILSAFAT
- Epistemologi (Proses)adalah pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan/proses dilakukannya pemikiran filsafat tersebut.
- Ontologi ( materi/ilmu) adalah Ilmu tentang hakikat yang ada baik jasmani/konkret dan rohani/abstrak. Sebelum berproses/berfilsafat kita harus menemukan/mempelajari ilmu-ilmu apa yang akan diproses selanjutnya.
- Aksiologi (Hasil Pelaksanaan) adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang ilmu-ilmu khususnya etika. Jadi setelah melakukan ontologi dan epistemologi , manusia menjalankan hasil atau bagaimana manusia menggunakan ilmunya.
BAB V
FILSAFAT YUNANI
Filsafat
Yunani pada Masa Pra Socrates
Lahirnya
filsafat di Yunani disebabkan di Yunani tidak pernah ada agama yang berdasarkan
kitab suci sebelumnya dan karena kemenangan akal atas dongeng atau mitos yang
diterima dari agama yang memberitahukan atas asal muasal segala sesuatu. Para
filosof mulai mencari tahu asal muasal terjadinya alam semesta beserta isinya.
Ada beberapa
filosof pada masa pra socrates, yaitu:
- Thales adalah filosof pertama pada abad ke 6 SM, yang menemukan ilmu ukur dari mesir dan membawanya ke Yunani dan dia seorang yang ali dalam bidang astronomi dan metafisika yang menyatakan bahwa bumi berasal dari air.
- Anaximandros adalah murid Thales dan seorang ahli astronomi dan ilmu bumi yang menyatakan bahwa bumi berasal dari zat yang tidak dapat dirupakan dan tidak ada persamaannya dengan apapun.
- Anaximenes adalah seorang ahli astronomi dan ilmu bumi sama seperti Anaximandros yang menyatakan bahwa bumi terbentuk dari udara.
- Phytagoras adalah seorang ahli pikir terutama ilmu matematik dan ilmu berhitung yang menyatakan bahwa dunia angka adalah dunia kepastian dan dunia ini erat hubungannya dengan dunia bentuk.
- Heraclitos adalah seorang filosof yang menyatakan bahwa bumi berasal dari api.
Shopis
Shopis
adalah seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu. Kaum Shopis
beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada
pengetahuan yang bersifat umum. Namun tidak semua pendapat Shopis itu benar,
kebenarannya adalah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian lainnya
bersifat khusus, yang khusus itulah kebenarannya bersifat relatif. Berikut ini
beberapa kaum shopis yang membesarkan namanya menjadi seorang Filosof :
- Protagoras
- Georgias
- Hippias
- Prodikos, dan
- Socrates
BAB VI
FILSAFAT
PRATHISTIK DAN SCOLASTIK
Filsafat
Kristen
Istilah
Prathistik berasal dari kata latin Prates yang berarti bapak-bapak dalam
lingkungan gereja, yang dimaksudkan adalah para pujangga kristen dan tokoh
peletak dasar intelektual kekristenan. Para filosof kristen pada masa
Prathistik mempunyai 2 pandangan tentang filsafat Yunani,ada yang menolak
karena filsafat yunani merupakan pemikiran manusia semata dan adapula yang
menerimanya karena filsafat yunani dipandang sebagai persiapan bagi injil.
Dapat diuraikan bahwa filsafat pada masa
prathistik menandai bahwa pemikiran-pemikiran para filosof mulai mempengaruhi
atau tercampur oleh pembahasan tentang pandangan hidup kristiani. Secara lebih
praktisnya, masa ini merupakan masa dimana menjadi proses “kristenisasi”
filsafat.
Filsafat
Hindu
Filsafat Hindu
berasal dari Filsafat India yang mengarah pada Hinduisme dan Buddhaisme. Hindu
adalah agama yang tidak didirikan oleh seorang,pemikiran, inkarnasi tertentu
akan tetapi filsafat, agama dan ilmu saling berkaitan. Walaupun agama
berlandaskan kepercayaan , dan filsafat berdasarkan pertimbangan (rasio), akan
tetapi tidak bertentangan , sebab ditinjau dari sudut tujuannya , sama-sama
mencari kebenaran. Agama Hindupun tidak terlapas dari filsafat yang dikenal
sebagai Darsana(Filsafat Hindu).
BAB VII
FILSAFAT
ISLAM
Filsafat
Islam di Dunia Timur
Sebagaimana
telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari
orang-orang Shopis adalah Socrates(469-399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato
(427-457 SM), dan diteruskan kembali oleh muridnya, Aristoteles(384-322 SM).
Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak lagi mencatat generasi berikutnya
hingga munculnya Al Kindi tahun 801 M. Al Kindi mempelajari kitab kitab
filsafat karangan Plato dan Aristoteles. Al Kindi mengatakan bahwa antara
filsafat dan agama tak ada pertentangan. Filsafat diartikan sebagai pembahasan
yang benar dan agama dalam itu juga menegaskan yang benar. Maka keduanya
membahas yang benar. Ditinjau dari karangan-karangannya, ia adalah penganut
aliran ekleltisisme dalam metafisika dan psikologi ia mengambil pendapat Plato;
dalam bidang etika ia mengambil pendapat-pendapat Socrates dan Plato. Meski
demikian, kepribadian Al Kindi sebagai filsafat Muslim tetap bertahan. Al Kindi
diperintahkan Raja Harun dari bani Abbasiyah untuk menyalin kitab-kitab
karangan Plato dan Aristoteles kedalam bahasa Arab. Setelah sepeninggal Al
Kindi munculah filosof-filosof islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat
antara lain: Al Farabi, Ibnu Sina, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad
Iqbal, dan Ibnu Rushd.
- Al Farabi mendefinisikan bahwa filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada ini. Al Farabi berhasil meletakkan dasar-dasar filsafat kealam ajaran Islam, dan juga berpendapat bahwa tidak adanya pertentangan antara Filsafat Plato dan Aristoteles, karena mereka tetap dalam satu tujuan walaupun terlihat bertentangan. Al Farabi mempunyai dasar berfilsafat adalah memperdalam ilmu dengan segala yang maujud hingga membawa pengenalan Allah sebagai penciptanya.
- Ibnu Maskawaih(325H – 421 H) adalah filosof muslim yang memusatkan perhatiannya pada etika islam. Pemikiran filsafat Ibnu Maskawaih antaranya adalah ia membedakan antara pengertian hikmah(keijaksanaan, wisdom) dan falsafah(filsafat). Menurutnya hikmah adalah keutamaan jiwa yang cerdas yang mampu membeda-bedakan. Sedangkan filsafat ia membedakan menjadi 2 bagian; bagian teori dan praktis. Bagian teori merupakan kesempurnaan manusia yang mengisi potensinya untuk mengetahui sesuatu hingga meyakini bahwa pikirannya itu benar. Dan bagian praktis, merupakan kesempurnaan manusia mengisi potensi untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan moral.
- Ibnu Sina(340H- 428H) adalah filosof muslim yang berpendapat bahwa Tuhan saja yang memiliki bentuk tunggal, secara mutlak, sedang segala sesuatu yang lain memiliki kodrat yang mendua. Karena ketunggalannya, maka apakah Tuhan itu dan kenyataannya bahwa Ia ada, bukanlah dua unsur atomik dalam wujud yang tunggal. Tentang apakah Tuhan itu, hakikat Dia, adalah identik dengan Eksistensi-Nya. Hal ini bukan merupakan kejadian bagi wujud lainnya, karena tidak ada kejadian lain yang eksistensinya sama dengan Tuhan.
- Al Ghazali (450 M-1111 M) adalah seorang filosof muslim yang menyangga pendapat-pendapat filosof sebelumnya. Sepuluh dari duapuluh kritikan Al Gazali adalah mengenai Al Kindi sebagai seorang Mu’tazilah yang tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan yang ada hanyalah semata-mata zat. Al Ghazali mengungkapkan sanggahan terhadap teori keabadian alam yang dikemukakan oleh filosof sebelumnya dalam sebuah bukunya yang berjudul Incoherence of the Philosophers mengenai pernyataan bahwa dunia ini ada begitu saja, hakikat kekalnya dunia, tentang potensialitas dan prinsip kelimpahan. Dan akhirnya Ia keluar dari dunia filsafat karena menurutnya filsafat membawa kepada kekufuran. Inilah yang mendorong Al Ghazali untuk mencap kafir filosof yang percaya bahwa alam ini qadim(tak bermula dalam zaman). Karena menurutnya qadim dalam falsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman, yaitu berarti tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Dan berarti ini tidak diciptakan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Maka syahadat dalam teologi islam adalah la qadima illaallah tidak ada yang qadim selain Allah, kalau alam ini qadim berarti alam juga tuhan dan terdapat 2 Tuhan. Ini membawa paham syirik atau politeisme, dalam Al Quran ini adalah dosa besar yang tidak diampuni Tuhan. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya pencipta yakni Tuhan. Ini membawa pula pada ateisme. Politisme dan ateisme jelas bertentanan sekali dengan ajaran tauhid. Dan dari pemikiran Al Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran, menjauhi filsafat. Apalagi disamping pengkafiran itu Al Ghazali berpendapat bahwa jalan yang sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat, melainkan tasawuf.
Filsafat
Islam di Dunia Barat
Di dunia
Islam barat, yaitu di Andalusia atau Spanyol Islam, malah sebaliknya, pemikiran
filsafat terus berkembang setelah serangan Al Ghazali tentang pendapatnya
mengenai filsafat.
Ibnu Rusyd(Filosof Islam di barat)
filsafat Ibnu Rusyd sangat berpengaruh oleh pemikiran aristoteles yang menurut
pendapatnya yaitu manusia istimewa dan pemikir terbesar yang telah mencapai
kebenaran yang tidak mungkin bercampur kesalahan. Ibnu Rusyd berkeyakinan bahwa
jika filsafat Aristoteles dapat dipahami dengan sebaik-baiknya, pasti tidak
akan berlawanan dengan pengetahuan tertinggi yang mampu dicapai manusia.
Kekagumannya pada Aristoteles sehigga ia menilai seolah-olah ilham Tuhan
menghendaki agar aristoteles menjadi teladan bagi otak manusia. Ibnu Rusyd
menolak ajaran tasawuf, karena menurutnya jalan itu merupakan jalan yang
berlawanan dengan syariat yang menyuruh mempergunakan pikiran.
BAB VIII
LATAR
BELAKANG FILSAFAT MODERN
Renaissance
Setelah
bangsa Eropa mengalami masa kegelapan (the dark age) zaman dimana gereja
berkuasa mutlak dan ajarannya tidak boleh dibantah. Dalam perkembangannya muncul
gerakan yang mencoba melepas ikatan dari ajaran itu yang disebut Renaissance.
Renaissence
berasal dari kata re (kembali) dan naitre (lahir) dalam bahasa perancis, lahir
kembali. Dengan kata lain, Renaissance adalah lahirnya kembali orang eropa
untuk mempelajari ilmu pengetauan Yunani dan romawi kuno yang ilmiah dan
rasional.
Ranaissance
lahir sekitar abad ke 15-16 M. Latar belakang munculnya Renaissance adalah
sebagai usaha membaharukan budaya romawi dan yunani yang ada pada masa
tengah/masa kegelapan. Dan sebab utama lahirnya renaissance itu karena
terkejutnya orang-orang eropa menyaksikan ambruknya imperium romawi timur oleh
kaum muslimin, terutama dengan peristiwa jatuhnya Konstatinopel ke tangan
Turki atas romawi timur pada tahun 1453 M.
Renaissance
merupakan titik awal dari peradaban modern di Eropa. Dan kelahiran renaissance
dapat simpulkan bahwa merupakan pembaharuan untuk membentuk manusia yang
mandiri, utuh, otonom, dan bertanggung jawab.
Sumbangan
Renaissance pada Eropa:
- Kemunculan aliran pemikiran yang mementingkan kebebasan akal.
- Itali telah menjadi pusat ilmu yang terkenal di Eropa pada abad ke 15.
- Renaissance telah membentuk masyarakat perdagangan yang berdaya maju.
- Melahirkan tokoh-tokoh pemikir seperti: Leonardo de Vinci, dll.
- Melahirkan ahli-ahli sains terkenal seperti Copernicus dan Galileo.
- Melahirkan ahli matematik seperti : Tartaglia dan Cardan, dll.
- Selain itu, Reinssance telah melahirkan tokoh perubatan di Eropa.
- Renaissane telah melahirkan masyarakat yang lebih progresif.
BAB IX
RASIONALISME,
EMPIRISME DAN KRITISME
Rasionalisme
Aliran ini
menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian dari pengetahuan. Pengetahuan yang
benar diperoleh dan diukur oleh akal dan akallah yang merupakan hal terbenar
dalam memperoleh ilmu.
Empirisme
Aliran
Empirisme menentang adanya aliran Rasionalisme, karena mereka berpendapat bahwa
pengetahuan yang benar itu diperoleh dari pengelaman. Para aliran ini
berpendapat bahwa pengetahuan yang sebenarnya itu adalah pengetahuan yang
diterima oleh seseorang melelui persentuhan inderawi dengan dunia nyata. Dan
menentang aliran Rasionalisme, karena mereka berbendapat bahwa akal hanyalah
tempat untuk menampung hasil-hasil dari penginderaan seseorang tersebut.
Kritisme
Aliran
kritisme menentang pendapat dari ke dua aliran diatas. Karena menurutnya,
pengetahuan yang sebenarnya itu diperoleh dari perpaduan Rasional dan Empiris.
Rasionalis tidak akan dikatakan benar karena pengetahuan Rasionalis dibentuk
oleh idea yang tidak dapat dibentuk dan diraba, tidak semua pemikiran itu benar
adanya dan teori rasionalis gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan
pengetahuan manusia selama ini. Begitu halnya dengan aliran Empirisme yang
kenyataannya bahwa pancaindera itu terbatas dan tidak sempurna, empirisme tidak
memberi kita kepatian, dan sebagai sebuah konsep, ternyata pengalaman tidak
berhubungan langsung dengan kenyataan objektif yang sangat ditinggikan oleh
kaum empiris.
BAB X
POSITIFME
DAN IDEALISME
Positifme
Positifme
berasal dari kata positif yang sama artinya dengan faktual, yaitu berdasar
fakta-fakta. Aliran Positifme ini berpangkal dari fakta-fakta yang positif atau
kenyataan positif. Bangunan ilmu yang bersifat positif sebagai berikut :
- Ilmu pengetahuan harus bersifat objektif.
- Ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulangkali terjadi.
- Ilmu pengetahuan menyoroti fenomena alam yang saling ketergantungan hubungannya.
Positifme
berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu
bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang
mengaitkan keduanya.
Idealisme
Idealisme
adalah aliran yang memandang bahwa akal dan nilai spiritual adalah hal yang
fundamental yang ada di dunia ini. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan itu
tidak lain daripadakejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang
diketahui manusia itu terletak di luarnya. Aliran ini merupakan aliran
terpenting dalam perkembangan sejarah filsafat manusia. Seperti contoh tokoh
idealis pertama : Plato, padangannya pada dunia mewakili kepentingan kelas yang
berkuasa dalam waktu itu di Eropa yaitu kelas pemilik budak. Pemikiran
filsafat idealisme ini dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan
berbagai bentuk. Perwujudan paling umum antara lain adalah formalisme dan
doktrinerisme. Mereka mempunyai teori sebagai kekuatan Yang Maha Kuasa, sebagai
obat manjur untuk berbagai macam penyakit, sehingga dalam melakukan tugasnya
atau menyelesaikan persoalannya mereka tidak bisa berpikir atau bertidak secara
hidup berdasarkan situasi dan syarat kongkret. Berikut adalah beberapa contoh
tokoh penganut aliran Idealisme:
- J.G. fichte, berpendapat bahwa dunia aktual hanya dapat dipahami sebagai bahan dari tugas-tugas kita. Dapat kita dilihat bahwa pemikiran filsafatnya adalah filsafat hidup dan aliran yang dianutnya adalah idealisme dan materialime.
- F.W.J. Shelling, pemikiran idealisme Shelling agak lebih objektif, karena menurutnya bukan aku ( objek ) ini sungguh-sungguh ada. Objek ini bukan hanya pertentangan belaka, melainkan punya nilai yang positif. Bagi Shelling, yang menjadi dasar kesungguhan dan berpikir itu ialah aku. Dan pandangannya lebih meningkat terhadap alam yakni budi dan dunia sama derajatnya hanya berhadapan sebagai subjek dan objek, sebetulnya keduanya sama karena bertermu pada asal mulanya adalah Tuhan.
- G.W.F. Hegel, ia adalah seorang idealis sebab ia sangat mementingkan rasio. Bukan hanya rasio pada seseorang melainkan juga pada subjek absolut karena Hegel juga menerima prinsip idealistik bahwa realistik seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu objek.
BAB XI
PENOMENOLOGI
Penomenologi
Penomenologi
adalah aliran yang menganggap bahwa fenomena adalah sumber dari pengetahuan dan
kebenaran. Fenomenologi merupakan kajian tentang bagaimana manusia sebagai
subjek memaknai objek-objek disekitarnya. Aliran ini mempunyai pandangan bahwa
pengetahuan yang kita ketahui sekarang ini merupakan pengetahuan yang kita
ketahui sebelumnya melalui hal-hal yang pernah kita lihat, rasa, dengar oleh
panca indera kita. Fenomenologi merupakan suatu pengetahuan tentang
kesadaran murni yang dialami manusia. Berikut usaha untuk mencapai segala
sesuatu itu harus melalui reduksi atau penyaringan yang terdiri dari :
- Reduksi fenomenologi, yaitu menyaring pengalaman dalam arti mencari fenomena dalam wujud semurni-murninya.
- Reduksi eidetis yaitu menepatkan dalam tanda kurung sebagai hal yang bukan intisari atau fenomena.
- Reduksi transedental, yaitu dalam penerapannya berdasarkan subjeknya sendiri perbuatannya dan kesadaran yang murni.
Namun
menurut para pengikut fenomenologi suatu fenomena tidak selalu harus dapat
diamati dengan indera. Sebab, fenomena juga dapat dilihat secara rohani tanpa
melewati indera, fenomena tidak perlu suatu peristiwa.
Tujuan dari
fenomenologi adalah tercapainya kesadaran murni tentang suatu hal kepada subjek
yang mengamati dan mendekatinya, dan juga memberi panduan yang runtut
untuk memahami suatu secara radikal untuk sampai kepada esensi dari fenomena
yang muncul.
BAB XII
MATERIALISME
Materialisme
Materialisme
adalah aliran yang menyatakan bahwa pengetahuan atau hal yang paling benar
adalah materi. Orang –orang penganut ajaran ini disebut dengan “materialis”.
Materialisme adalah paham yang hanya bersandar pada materi (mad’ah) yang
tidak meyakini apa yang ada dibalik alam ghaib. Tidak meyakini adanya alam gaib
berarti otomatis menafikan adanya Tuhan, karena menurut ajaran ini alam semesta
beserta isinya berasal dari satu sumber yaitu materi. Pemikiran semacam ini
bisa juga disebut ateisme karena tidak mengakui adanya Tuhan. Para filsuf
materialisme menganggap bahwa materi diatas segala-galanya. Beberapa
pendapat mereka antara lain:
- Tidak ada sesuatu yang bersifat non material seperti hantu, roh, dll.
- Tidak ada Tuhan atau dunia adikodrati.
- Penjelasan yang paling tepat atas sesuatu adalah material.
- Materi dan aktifitasnya bersifat abadi.
- Bentuk material dari barang-barang dapat diubah, namun materinya tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
- Tidak ada kehidupan yang kekal.
Dalam materialisme
terdapat 3 pandangan, yakni materialisme mekanik yakni aliran yang pandangan
materialismenya mekanis dalam arti selalu adanya gerakan dan perubahan
(mekanika), materialisme metafisik yaitu materialisme yang menganggap
bahwa materi itu diam, namun yang membuatnya bergerak adalah faktor dari
luar/ekstern, dan materialisme dialektis yaitu aliran yang bersandar pada benda
dan metodenya dialektis, dan aliran ini menyangga pendapat materialisme mefisik
karena menurut pendapat filsuf aliran ini, pergerakan benda itu tidak dari luar
melainkan dari dalam (intern).
Ada beberapa
tokoh-tokoh penganut ajaran materialisme ini, antara lain :
- Ludwig Feuerbach, ia berpendapat bahwa pada hakikatnya Tuhan itu adalah ciptaan dari angan-angan manusia itu, manusialah Tuhan untuk dirinya sendiri. Pendapat itulah mengapa Feuerbach dianggap sebagai pengikut aliran materialisme.
- Karl Marx, ia berpendapat bahwa materi adalah faham serba benda. Mark meyakini bahwa tahap-tahap perkembangan sejarah itu ditentukan oleh keberadaan material.
BAB XIII
PRAGMATISME
Pragmatisme
Pragmatisme
berasal dari bahasa Yunani “pragma” yakni tindakan. Pragmatisme adalah
aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya
benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.
Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis itu semua bisa diterima sebagai
kebenaran asalkan bermanfaat atau dengan kata lain, aliran ini berpendapat
bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan
bagi kehidupan nyata. Aliran ini muncul pertama kali oleh William James dalam
bukunya yang berjudul Pragmatisme (1907) dan The Meaning Of Truth (1909).
Kelemahan dari pragmatisme ialah aliran ini lebih menuju pada ateisme, karena
pragmatisme tidak mau mengakui suatu yg bersifat metafisika dan kebenarannya.
Berarti secara tidak langsung juga tidak mengakui Transedental (Tuhan). Dan
kekuatan dari pragmatisme ialah aliran ini telah mendorong manusia berpikir
liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada. Pragmatisme telah
memberi dorongan pada manusia untuk berlomba-lomba membuktikan suatu konsep
melalui penelitian, eksperimen, dan muncullah temuan-temuan baru dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi.
Ada beberapa tokoh penganut aliran ini antara
lain:
- Charles Sandre Peirce, dalam pernyataannya ia ingin menegaskan bahwa pragmatisme bukan sekedar ilmu yang bersifat teori, melainkan lebih cenderung pada tataran ilmu praktis untuk membantu menyelesaikan persoalan manusia.
- William James, ia menganggap bahwa tiada kebenaran yang mutlak, sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang dinggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
- John Dewey berpendapat bahwa pengalaman adalah keseluruhan drama manusia dan mencangkup segala proses. Dewey merumuskan esensi instrumentalisme pragmatis seabagai “ to conceive of both knowledge and practice s means of making good excellencies of all kind secure in experienced existence”. Yang dimaksud teri instrumentalisme adalah usaha untuk menyusun teori yang logis, tepat dari konsep, pertimbangan,dan alin sebagainya yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan. Dan istilah ini yang membuat teori pragmatisme lebih dikenal sebagai instrumentalisme.