Rabu, 30 November 2016

Resum Buku Filsafat Umum

Resum Buku Filsafat Umum
Karangan DR. Limas Dodi, M.Hum.


BAB I
SEJARAH FILSAFAT

       Filsafat secara etimologis diambil dari 2 kata yaitu Falsafah (arab) dan Philosophy ( Inggris) yang artinya Philos = Cinta dan Sophy = Bijaksana, Cinta Kabijaksanaan. Secara praktis, Filsafat adalah alam pikiran atau alam berpikir, namun tidak semua kegiatan berpikir itu berfilsafat. Bisa dikatakan pula bahwa filsafat adalah studi yang mempelajari seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan mendasar(radikal). Seorang yang berfilsafat dinamakan filosuf atau orang-orang yang cinta kebijaksanaan. Berfilsafat adalah berpikir atau memikirkan sesuatu secara mendalam dan bersungguh-sungguh  hingga ke akar-akarnya dan sistematis.
Tanda-tanda berpikir Filsafat :
  1. Radikalitas adalah berpikir mendalam tentang menemukan suatu hakikat dari persoalan.
  2. Komperehensivitas adalah berpikir tentang segala hal aspek yang berkaitan dengan persoalan tersebut, karena setiap persoalan tidak hanya terdiri atas satu variabel tapi dari beberapa variabel.
  3. Integralitas adalah berpikir sistematisasi berbagai aspek dari suatu persoalan menjadi suatu keutuhan.
      Awal munculnya filsafat adalah ketika adanya para filosof-filosof yunani yang memikirkan sesuatu persoalan, dan disanalah awal mula filsafat itu ada, karena filsafat sendiri adalah proses berpikir para filosof-filosof/ para pemikir.
       Umumnya sejarah filsafat dibagi menjadi lima periode, yaitu periode Pra-sejarah, periode Klasik, periode Pertengahan, periode Modern dan periode Konteporer.
  • Periode Pra-Sejarah adalah periode paling awal menurut para filosof, periode Pra-Sejarah ini sekitar 7 dan 6 SM di Yunani kuno. Ketika Thales dan kawan-kawan mencoba menjawab asal-usul alam semesta dengan cara rasional yang kemudian tradisi berpikir ini oleh Phitagoras disebut Philoshophia. Thales dan para pemikir pada waktu itu tidak menyebutnya sebagai filsafat, namun cara-cara berpikir mereka yang baru dalam mengerti dunia berbeda dengan cara orang-orang yang mengerti dunia dengan mitos-mitos yang ada ini oleh orang setelanya dinamai aktivitas berpikir awal yang disebut filsafat.
  • Filsafat dalam Periode Klasik adalah periode setelah periode Pra-Sejarah. Periode ini ditemukan beberapa filosof besar yang sangat banyak memberi kontribusi besar terhadap dunia filsafat dan ilmu pendidikan.Pada yunani periode sebelum Socrates, yaitu sekitar 600-400 SM. Pada masa ini para filosof lebih dikenal sebagai ilmuan dan agamawan seperti Phytagoras. Setelah masa itu munculah periode Yunani Trio filosof, yakni sekitar 500-300 SM. Trio filosof itu diantaranya adalah “Socrates, Plato dan Aristoteles” yang merupakan periode filosof legendaris. Setelah masa trio filosof berakhir, berikutnya adalah masa penerus 3 filosof legendaris, yaitu dimana filosof dimasa ini meneruskan dan mengembangkan pemikiran-pemikiran para filosof di masa sebelumnya
  • Filsafat dalam periode Pertengahan adalah zaman atau abad keemasan bagi keagamaan utamanya kristen. Yaitu sekitar abad 8-15 SM, agama(kristen) bersifat dogmatik cenderung menolak keberadaan filsafat dan ilmu, dianggap gerejala pusat kebenaran. Ini yang menebabkan ilmu pengetahuan dan filsafat mengalami kemunduran.
  • Filsafat periode Modern sekitar abad 16-19. Pada zaman ini dimana membalikkan paradigma pada masa Pertengahan yang memandang alam semesta dalam logika hierarki atau wujudnya tersebut berujung dan kembali pada tuhan, tetapi pada masa ini para filosof menghubungkan keberadaan tuhan dengan penyingkapan pengetahuan.
  • Filsafat periode Konteporer adalah pemikiran pada masa saat ini yang telah mencangkup berbagai hal atas segala aspek yang di rumuskan dalam suatu pemikiran
       
.
.

BAB II
FILSAFAT SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN


Filsafat sebagai Pandangan hidup
          Pandangan hidup adalah pendapat atau pertimbanganyang dijadikan pedoman atau petunjuk di dunia. Pandangan itu bersifat kodrati karena itu menentukan masa depan seseorang.

Pandangan hidup dapat di klasifikasihan berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
  1. Pandangan hidup dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
  2. Pandangan hidup berupa ideologi yaitu pandangan yang disesuaikan dengan budaya dan norma di suatu negara.
  3. Pandangan hidup dari hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Dalam berpandangan hidup manusia harus memiliki langkah-langkah berikut, yaitu: Mengenal, Menghayati, Meyakini dan Mengabdi.
         Mengenal adalah tahap pertama seseorang dalam menentukan pandangan hidupnya, yang kedua menghayati, menghayati dalam arti memperoleh gambaran tentang apa pandangan hidupnya tersebut, yang ketiga meyakini yaitu cara untuk memperoleh kepastian dan yang terakhir mengabdi yaitu sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh seseorang tersebut lebih-lebih orang lain dan seseorang tersebut pun dapat merasakan manfaat dari tujuan hidupnya tersebut.
         Manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan. Ada yang memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan dan ada pula yang memperlakukan pandangan hidup sebagai penimbul kesejah teraan, tekentraman dan sebagainya.
         Filsafat diartikan  sebagai pandangan hidup karena filsafat pada hakikatnya bersumber pada kodrat pribadi manusia. Dan filsafat sebagai pandangan hidup karena merupakan suatu yang dijadikan dasar atas semua tindakan dan tingkah laku dalam keseharian manusia tersebut.

Filsafat sebagai ilmu pengetahuan
         Ilmu adalah kumpulan pengetahuan, pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal serta budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Pada hakikatnya setiap ilmu memiiki objek begitupun filsafat. Cangkupan filsafat lebih luas dibanding ilmu, karena ilmu hanya terbatas pada masalah empiris tertentu saja, sedangkan filsafat juga mencangkup hal-hal empiris dan metafisika. Selain itu secara historis membuktikan bahwa ilmu berasal dari kajian filsafat karena awalnya filsafatlah yang melakukan pembahasan tentang segala hal yang sistematis, rasional dan logis, termasuk empiris. Dengan demikian filsafat disebut-sebut sebagai induk dari ilmu-ilmu yang sekarang.

Perbedaan Filsafat dengan Agama
        Filsafat dan agama adalah dua pokok yang persoalan berbeda. Agama merupakan ajaran mengenai hubungan antara manusia dan  Yang Maha Kuasa. Sedangkan filsafat sendiri adalah pemikiran atau ilmu yang diperoleh dari suatu pemikiran. Agama tidak selalu mengukur kebenaran dari segi logisnya karena agama kadang tidak terlalu memperhatikan aspek logisnya. Berbeda dengan agama, pembahasan filsafat lebih membahas sesuatu dalam rangka melihat kebenaran yang diukur, apakah itu logis atau tidak. Dalam filsafat lebih berhubungan dengan pikiran yang dingin dan tenang sedangkan agama banyak hubungannya dengan hati.

BAB III
CIRI-CIRI FILSAFAT
A. Filsafat Timur

Filsafat India
          India umumnya dikenal  sebagai asal dari agama Hindu dan Buddha. Filsafat India terkenal dengan filsafat spiritual yang sangat kaya dalam menunjukkan petunjuk ideal tentang hidup. Filsafat India tidak hanya menyajikan intelektualitas tapi juga menyentuh jantung eksistensi yang mengarah pada perbaikan diri. Berikut pembagian periode filsafat di India :

1.      Zaman Weda (2000-600 SM)
2.      Zaman Skeptisisme (600-300 SM)
3.    Zaman Puralisme (300-1200)
4.    Zaman Muslim (1200-1757)
5.    Zaman Modern (setelah 1757) 


Filsafat China
        Filsafat Cina Pemikiran Cina dapat disimpulkan bahwa antara teori dan pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan , bertolak dari semacam humanisme pemikiran filosof  Cina etika dan spiritual menyatu padu. Dan dapat terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu:
  1. Konfusius adalah ajaran yang lahir atas keprihatinannya akan situasi sosial dan poltik pada saat itu. Maka tidak heran pembahasan utama konfusius tentang tidak adanya disparitas antara hak pribadi dan kepentingan umum. Bagi konfusius kekacauan ini timbul karena Li kehilangan jiwanya. Untuk menghidupkan kembali Li berarti menghidupkan kembali ritual dan musik dengan berdasarkan Ren (kebaikan hati atau kasih sayang sesama manusia). konfusius dalam arti yang lebih luas daripada ritual dan ritus yaitu segala sesuatu yang terkait pada tindakan manusia atau etika.
  2. Taoisme adalah ajaran yang lebih tertuju pada Metafisika. Puncak metafisika Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao.
  3. Mencius dan Xunzi, memabangun kembali dan mengembangkan Konfusianisme yang bermula dari Konfusius. Seperti Konfusius, Mencius mendasarkan ajarannya pada Ren, tapi iya menyatakan bahwa untuk membina Ren harus mengembangkan yi atau kebaikan.
  4. Mohisme, aliran ini lebih mengutamakan secara khusus keberuntungan Li dan pencapaian Kung. Berbeda dengan aliran konfusius yang mementingkan relasi yang tepat Li tanpa mementingkan Kung.
  5. Daoisme, pengikut ajaran ini berpendapat bahwa cara terbaik untuk hidup adalah menarik diri dari peradaban dan kembali kepada alam, dari keadaan beradab ke keadaan alami. Pemikiran naturalistic yang dikenal sebagai Daoisme yang menjunjung tinggi Dao dan alam.
  6. Neo Konfusianisme adalah bentuk konfusianisme yang terutama dikembangkan selama Dinasti Song, namun aliran ini baru muncul dipermukaan pada masa dinasti Tang lewat Han Yu dan Li ao. Mereka membuka cakrawala baru yaitu Neo Konfusianisme yaitu dimensi kosmologis dalam refleksi mereka.
Filsafat Islam
          Filsafat Islam adalah berpikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hakekat segala sesuatu berdasarkan ajaran islam.singkatnya filsafat Islam itu adalah filsafat yang berorientasi kepada al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi terhadap wahyu Allah.

B. Filsafat Barat

Filsafat Yunani
         Filsafat yunani muncul kira-kira sejak abad 6 SM, mempunyai sistem kepercayaan bahwa segala sesuatu yang bersumber dari dongeng-dongeng atau mitos-mitos yang berlaku dalam masyarakat harus diterima sebagai kebenaran yang mutlak dan tidak perlu dipertanyakan kembali. Pasca abad 6 SM, mulai bermunculan para pemikir yunani yang menentang adanya sistem kepercayaan yang berdasar pada mitos. Mereka mulai mempertanyakan wujud sesuatu dan sebab dari sesuatu itu, dalam arti mereka telah mendudukkan akal pada posisinya. Filsafat barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di Universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filafat ini berkembang dari tradisi falsafi orang Yunani kuno. Dalam filsafat barat secara sistematis terbagi menjadi 3 bagian besar yakni:
  1. Bagian filsafat yang mengkaji tentang ada (being).
  2. Bagian filsafat yang mengkaji pengetahuan (epistimologi dalam arti luas).
  3. Bagian filsafat yang mengkaji nilai-nilai menentukan apa yang seharusnya dilakukan manusia (aksiologi).

BAB IV
SISTEMATIKA FILSAFAT
  1. Epistemologi (Proses)adalah pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan/proses dilakukannya pemikiran filsafat tersebut.
  2. Ontologi ( materi/ilmu) adalah Ilmu tentang hakikat yang ada baik jasmani/konkret dan rohani/abstrak. Sebelum berproses/berfilsafat  kita harus menemukan/mempelajari ilmu-ilmu apa yang akan diproses selanjutnya. 
  3. Aksiologi (Hasil Pelaksanaan) adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang ilmu-ilmu khususnya etika. Jadi setelah melakukan ontologi dan epistemologi , manusia menjalankan hasil atau bagaimana manusia menggunakan ilmunya.

BAB V
FILSAFAT YUNANI

Filsafat Yunani pada Masa Pra Socrates
         Lahirnya filsafat di Yunani disebabkan di Yunani tidak pernah ada agama yang berdasarkan kitab suci sebelumnya dan karena kemenangan akal atas dongeng atau mitos yang diterima dari agama yang memberitahukan atas asal muasal segala sesuatu. Para filosof mulai mencari tahu asal muasal terjadinya alam semesta beserta isinya.
Ada beberapa filosof pada masa pra socrates, yaitu:
  1. Thales adalah filosof pertama pada abad ke 6 SM, yang menemukan ilmu ukur dari mesir dan membawanya ke Yunani dan dia seorang yang ali dalam bidang astronomi dan metafisika yang menyatakan bahwa bumi berasal dari air.
  2. Anaximandros adalah murid Thales dan seorang ahli astronomi dan ilmu bumi yang menyatakan bahwa bumi berasal dari zat yang tidak dapat dirupakan dan tidak ada persamaannya dengan apapun.
  3. Anaximenes adalah seorang ahli astronomi dan ilmu bumi sama seperti Anaximandros yang menyatakan bahwa bumi terbentuk dari udara.
  4.  Phytagoras adalah seorang ahli pikir terutama ilmu matematik dan ilmu berhitung yang menyatakan bahwa dunia angka adalah dunia kepastian dan dunia ini erat hubungannya dengan dunia bentuk.
  5.  Heraclitos adalah seorang filosof  yang menyatakan bahwa bumi berasal dari api.

Shopis
          Shopis adalah seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu. Kaum Shopis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Namun tidak semua pendapat Shopis itu benar, kebenarannya adalah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian lainnya bersifat khusus, yang khusus itulah kebenarannya bersifat relatif. Berikut ini beberapa kaum shopis yang membesarkan namanya menjadi seorang Filosof :
  • Protagoras
  • Georgias 
  • Hippias 
  • Prodikos, dan 
  • Socrates

BAB VI

FILSAFAT PRATHISTIK DAN SCOLASTIK
 Filsafat Kristen
          Istilah Prathistik berasal dari kata latin Prates yang berarti bapak-bapak dalam lingkungan gereja, yang dimaksudkan adalah para pujangga kristen dan tokoh peletak dasar intelektual kekristenan. Para filosof kristen pada masa Prathistik mempunyai 2 pandangan tentang filsafat Yunani,ada yang menolak karena filsafat yunani merupakan pemikiran manusia semata dan adapula yang menerimanya karena filsafat yunani dipandang sebagai persiapan bagi injil.
          Dapat diuraikan bahwa filsafat pada masa prathistik menandai bahwa pemikiran-pemikiran para filosof mulai mempengaruhi atau tercampur oleh pembahasan tentang pandangan hidup kristiani. Secara lebih praktisnya, masa ini merupakan masa dimana menjadi proses “kristenisasi” filsafat.

Filsafat Hindu
           Filsafat Hindu berasal dari Filsafat India yang mengarah pada Hinduisme dan Buddhaisme. Hindu adalah agama yang tidak didirikan oleh seorang,pemikiran, inkarnasi tertentu akan tetapi filsafat, agama dan ilmu saling berkaitan. Walaupun agama berlandaskan kepercayaan , dan filsafat berdasarkan pertimbangan (rasio), akan tetapi tidak bertentangan , sebab ditinjau dari sudut tujuannya , sama-sama mencari kebenaran. Agama Hindupun tidak terlapas dari filsafat yang dikenal sebagai Darsana(Filsafat Hindu).


BAB VII

FILSAFAT ISLAM

Filsafat Islam di Dunia Timur
           Sebagaimana telah diketahui, orang yang pertama kali belajar dan mengajarkan filsafat dari orang-orang Shopis adalah Socrates(469-399 SM), kemudian diteruskan oleh Plato (427-457 SM), dan diteruskan kembali oleh muridnya, Aristoteles(384-322 SM). Setelah zaman Aristoteles, sejarah tidak lagi mencatat generasi berikutnya hingga munculnya Al Kindi tahun 801 M. Al Kindi mempelajari kitab kitab filsafat karangan Plato dan Aristoteles. Al Kindi mengatakan bahwa antara filsafat dan agama tak ada pertentangan. Filsafat diartikan sebagai pembahasan yang benar dan agama dalam itu juga menegaskan yang benar. Maka keduanya membahas yang benar. Ditinjau dari karangan-karangannya, ia adalah penganut aliran ekleltisisme dalam metafisika dan psikologi ia mengambil pendapat Plato; dalam bidang etika ia mengambil pendapat-pendapat Socrates dan Plato. Meski demikian, kepribadian Al Kindi sebagai filsafat Muslim tetap bertahan. Al Kindi diperintahkan Raja Harun dari bani Abbasiyah untuk menyalin kitab-kitab karangan Plato dan Aristoteles kedalam bahasa Arab. Setelah sepeninggal Al Kindi munculah filosof-filosof islam kenamaan yang terus mengembangkan filsafat antara lain: Al Farabi, Ibnu Sina, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, dan Ibnu Rushd.
  1. Al Farabi mendefinisikan bahwa filsafat adalah ilmu yang menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada ini. Al Farabi berhasil meletakkan dasar-dasar filsafat kealam ajaran Islam, dan juga berpendapat bahwa tidak adanya pertentangan antara Filsafat Plato dan Aristoteles, karena mereka tetap dalam satu tujuan walaupun terlihat bertentangan. Al Farabi mempunyai dasar berfilsafat adalah memperdalam ilmu dengan segala yang maujud hingga membawa pengenalan Allah sebagai penciptanya.
  2. Ibnu Maskawaih(325H – 421 H) adalah filosof muslim yang memusatkan perhatiannya pada etika islam. Pemikiran filsafat Ibnu Maskawaih antaranya adalah ia membedakan antara pengertian hikmah(keijaksanaan, wisdom) dan falsafah(filsafat). Menurutnya hikmah adalah keutamaan jiwa yang cerdas yang mampu membeda-bedakan. Sedangkan filsafat ia membedakan menjadi 2 bagian; bagian teori dan praktis. Bagian teori merupakan kesempurnaan manusia yang mengisi potensinya untuk mengetahui sesuatu hingga meyakini bahwa pikirannya itu benar. Dan bagian praktis, merupakan kesempurnaan manusia mengisi potensi untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan moral.
  3. Ibnu Sina(340H- 428H) adalah filosof muslim yang berpendapat bahwa Tuhan saja yang memiliki bentuk tunggal, secara mutlak, sedang segala sesuatu yang lain memiliki kodrat yang mendua. Karena ketunggalannya, maka apakah Tuhan itu dan kenyataannya bahwa Ia ada, bukanlah dua unsur atomik dalam wujud yang tunggal. Tentang apakah Tuhan itu, hakikat Dia, adalah identik dengan Eksistensi-Nya. Hal ini bukan merupakan kejadian bagi wujud lainnya, karena tidak ada kejadian lain yang eksistensinya sama dengan Tuhan.
  4. Al Ghazali (450 M-1111 M) adalah seorang filosof muslim yang menyangga pendapat-pendapat filosof sebelumnya. Sepuluh dari duapuluh kritikan Al Gazali adalah mengenai Al Kindi sebagai seorang Mu’tazilah yang tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan yang ada hanyalah semata-mata zat. Al Ghazali mengungkapkan sanggahan terhadap teori keabadian alam yang dikemukakan oleh filosof sebelumnya dalam sebuah bukunya yang berjudul Incoherence of the Philosophers mengenai pernyataan bahwa dunia ini ada begitu saja, hakikat kekalnya dunia, tentang potensialitas dan prinsip kelimpahan. Dan akhirnya Ia keluar dari dunia filsafat karena menurutnya filsafat membawa kepada kekufuran. Inilah yang mendorong Al Ghazali untuk mencap kafir filosof  yang percaya bahwa alam ini qadim(tak bermula dalam zaman). Karena menurutnya qadim dalam falsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman, yaitu berarti tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Dan berarti ini tidak diciptakan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Maka syahadat dalam teologi islam adalah la qadima  illaallah tidak ada yang qadim selain Allah, kalau alam ini qadim berarti alam juga tuhan dan terdapat 2 Tuhan. Ini membawa paham syirik atau politeisme, dalam Al Quran ini adalah dosa besar yang tidak diampuni Tuhan. Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya pencipta yakni Tuhan. Ini membawa pula pada ateisme. Politisme dan ateisme jelas bertentanan sekali dengan ajaran tauhid. Dan dari pemikiran Al Ghazali ini membuat orang di dunia Islam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran, menjauhi filsafat. Apalagi disamping pengkafiran itu Al Ghazali berpendapat bahwa jalan yang sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah filsafat, melainkan tasawuf.

Filsafat Islam di Dunia Barat
          Di dunia Islam barat, yaitu di Andalusia atau Spanyol Islam, malah sebaliknya, pemikiran filsafat terus berkembang setelah serangan Al Ghazali tentang pendapatnya mengenai filsafat.
          Ibnu Rusyd(Filosof Islam di barat) filsafat Ibnu Rusyd sangat berpengaruh oleh pemikiran aristoteles yang menurut pendapatnya yaitu manusia istimewa dan pemikir terbesar yang telah mencapai kebenaran yang tidak mungkin bercampur kesalahan. Ibnu Rusyd berkeyakinan bahwa jika filsafat Aristoteles dapat dipahami dengan sebaik-baiknya, pasti tidak akan berlawanan dengan pengetahuan tertinggi yang mampu dicapai manusia. Kekagumannya pada Aristoteles sehigga ia menilai seolah-olah ilham Tuhan menghendaki agar aristoteles menjadi teladan bagi otak manusia. Ibnu Rusyd menolak ajaran tasawuf, karena menurutnya jalan itu merupakan jalan yang berlawanan dengan syariat yang menyuruh mempergunakan pikiran.


BAB VIII
LATAR BELAKANG FILSAFAT MODERN

Renaissance
          Setelah bangsa Eropa mengalami masa kegelapan (the dark age) zaman dimana gereja berkuasa mutlak dan ajarannya tidak boleh dibantah. Dalam perkembangannya muncul gerakan yang mencoba melepas ikatan dari ajaran itu yang disebut Renaissance.
        Renaissence berasal dari kata re (kembali) dan naitre (lahir) dalam bahasa perancis, lahir kembali. Dengan kata lain, Renaissance adalah lahirnya kembali orang eropa untuk mempelajari ilmu pengetauan Yunani dan romawi kuno yang ilmiah dan rasional.
        Ranaissance lahir sekitar abad ke 15-16 M. Latar belakang munculnya Renaissance adalah sebagai usaha membaharukan budaya romawi dan yunani yang ada pada masa tengah/masa kegelapan. Dan sebab utama lahirnya renaissance itu karena terkejutnya orang-orang eropa menyaksikan ambruknya imperium romawi timur oleh kaum muslimin, terutama dengan  peristiwa jatuhnya Konstatinopel ke tangan Turki atas romawi timur pada tahun 1453 M.
          Renaissance merupakan titik awal dari peradaban modern di Eropa. Dan kelahiran renaissance dapat simpulkan bahwa merupakan pembaharuan untuk membentuk manusia yang mandiri, utuh, otonom, dan bertanggung jawab.
Sumbangan Renaissance pada Eropa:
  • Kemunculan aliran pemikiran yang mementingkan kebebasan akal.
  • Itali telah menjadi pusat ilmu yang terkenal di Eropa pada abad ke 15.
  • Renaissance telah membentuk masyarakat perdagangan yang berdaya maju.
  • Melahirkan tokoh-tokoh pemikir seperti: Leonardo de Vinci, dll.
  • Melahirkan ahli-ahli sains terkenal seperti Copernicus dan Galileo.
  • Melahirkan ahli matematik seperti : Tartaglia dan Cardan, dll.
  • Selain itu, Reinssance telah melahirkan tokoh perubatan di Eropa.
  • Renaissane telah melahirkan masyarakat yang lebih progresif.

BAB IX

RASIONALISME, EMPIRISME DAN KRITISME

Rasionalisme
          Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian dari pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur oleh akal dan akallah yang merupakan hal terbenar dalam memperoleh ilmu.

Empirisme
          Aliran Empirisme menentang adanya aliran Rasionalisme, karena mereka berpendapat bahwa pengetahuan yang benar itu diperoleh dari pengelaman. Para aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang sebenarnya itu adalah pengetahuan yang diterima oleh seseorang melelui persentuhan inderawi dengan dunia nyata. Dan menentang aliran Rasionalisme, karena mereka berbendapat bahwa akal hanyalah tempat untuk menampung hasil-hasil dari penginderaan seseorang tersebut.

Kritisme
         Aliran kritisme menentang pendapat dari ke dua aliran diatas. Karena menurutnya, pengetahuan yang sebenarnya itu diperoleh dari perpaduan Rasional dan Empiris. Rasionalis tidak akan dikatakan benar karena pengetahuan Rasionalis dibentuk oleh idea yang tidak dapat dibentuk dan diraba, tidak semua pemikiran itu benar adanya dan teori rasionalis gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia selama ini. Begitu halnya dengan aliran Empirisme yang kenyataannya bahwa pancaindera itu terbatas dan tidak sempurna, empirisme tidak memberi kita kepatian, dan sebagai sebuah konsep, ternyata pengalaman tidak berhubungan langsung dengan kenyataan objektif yang sangat ditinggikan oleh kaum empiris.


BAB X
POSITIFME DAN IDEALISME

Positifme
        Positifme berasal dari kata positif yang sama artinya dengan faktual, yaitu berdasar fakta-fakta. Aliran Positifme ini berpangkal dari fakta-fakta yang positif atau kenyataan positif. Bangunan ilmu yang bersifat positif sebagai berikut :
  • Ilmu pengetahuan harus bersifat objektif.
  • Ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulangkali terjadi.
  • Ilmu pengetahuan menyoroti fenomena alam yang saling ketergantungan hubungannya.
        Positifme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengaitkan keduanya.

Idealisme
        Idealisme adalah aliran yang memandang bahwa akal dan nilai spiritual adalah hal yang fundamental yang ada di dunia ini. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan itu tidak lain daripadakejadian dalam jiwa manusia, sedangkan kenyataan yang diketahui manusia itu terletak di luarnya. Aliran ini merupakan aliran terpenting dalam perkembangan sejarah filsafat manusia. Seperti contoh tokoh idealis pertama : Plato, padangannya pada dunia mewakili kepentingan kelas yang berkuasa dalam waktu  itu di Eropa yaitu kelas pemilik budak. Pemikiran filsafat idealisme ini dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai bentuk. Perwujudan paling umum antara lain adalah formalisme dan doktrinerisme. Mereka mempunyai teori sebagai kekuatan Yang Maha Kuasa, sebagai obat manjur untuk berbagai macam penyakit, sehingga dalam melakukan tugasnya atau menyelesaikan persoalannya mereka tidak bisa berpikir atau bertidak secara hidup berdasarkan situasi dan syarat kongkret. Berikut adalah beberapa contoh tokoh penganut aliran Idealisme:
  1. J.G. fichte, berpendapat bahwa dunia aktual hanya dapat dipahami sebagai bahan dari tugas-tugas kita. Dapat kita dilihat bahwa pemikiran filsafatnya adalah filsafat hidup dan aliran yang dianutnya adalah idealisme dan materialime.
  2. F.W.J. Shelling, pemikiran idealisme Shelling agak lebih objektif, karena menurutnya bukan aku ( objek ) ini sungguh-sungguh ada. Objek ini bukan hanya pertentangan belaka, melainkan punya nilai yang positif. Bagi Shelling, yang menjadi dasar kesungguhan dan berpikir itu ialah aku. Dan pandangannya lebih meningkat terhadap alam yakni budi dan dunia sama derajatnya hanya berhadapan sebagai subjek dan objek, sebetulnya keduanya sama karena bertermu pada asal mulanya adalah Tuhan.
  3. G.W.F. Hegel, ia adalah seorang idealis sebab ia sangat mementingkan rasio. Bukan hanya rasio pada seseorang melainkan juga pada subjek absolut karena Hegel juga menerima prinsip idealistik bahwa realistik seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu objek.

BAB XI
PENOMENOLOGI
Penomenologi
            Penomenologi adalah aliran yang menganggap bahwa fenomena adalah sumber dari pengetahuan dan kebenaran. Fenomenologi merupakan kajian tentang bagaimana manusia sebagai subjek memaknai objek-objek disekitarnya. Aliran ini mempunyai pandangan bahwa pengetahuan yang kita ketahui sekarang ini merupakan pengetahuan yang kita ketahui sebelumnya melalui hal-hal yang pernah kita lihat, rasa, dengar oleh panca indera kita.  Fenomenologi merupakan suatu pengetahuan tentang kesadaran murni yang dialami manusia.  Berikut usaha untuk mencapai segala sesuatu itu harus melalui reduksi atau penyaringan yang terdiri dari :
  • Reduksi fenomenologi, yaitu menyaring pengalaman dalam arti mencari fenomena dalam wujud semurni-murninya.
  • Reduksi eidetis yaitu menepatkan  dalam tanda kurung sebagai hal yang bukan intisari atau fenomena.
  • Reduksi transedental, yaitu dalam penerapannya berdasarkan subjeknya sendiri perbuatannya dan kesadaran yang murni.
           Namun menurut para pengikut fenomenologi suatu fenomena tidak selalu harus dapat diamati dengan indera. Sebab, fenomena juga dapat dilihat secara rohani tanpa melewati indera, fenomena tidak perlu suatu peristiwa.
           Tujuan dari fenomenologi adalah tercapainya kesadaran murni tentang suatu hal kepada subjek  yang mengamati dan mendekatinya, dan juga memberi panduan yang runtut untuk memahami suatu secara radikal untuk sampai kepada esensi dari fenomena yang muncul.


BAB XII
MATERIALISME
Materialisme
             Materialisme adalah aliran yang menyatakan bahwa pengetahuan atau hal yang paling benar adalah materi. Orang –orang penganut ajaran ini disebut dengan “materialis”. Materialisme adalah paham yang hanya bersandar pada materi (mad’ah)  yang tidak meyakini apa yang ada dibalik alam ghaib. Tidak meyakini adanya alam gaib berarti otomatis menafikan adanya Tuhan, karena menurut ajaran ini alam semesta beserta isinya berasal dari satu sumber yaitu materi. Pemikiran semacam ini bisa juga disebut ateisme karena tidak mengakui adanya Tuhan. Para filsuf materialisme menganggap bahwa materi diatas segala-galanya.  Beberapa pendapat mereka antara lain:
  • Tidak ada sesuatu yang bersifat non material seperti hantu, roh, dll.
  • Tidak ada Tuhan atau dunia adikodrati.
  • Penjelasan yang paling tepat atas sesuatu adalah material.
  • Materi dan aktifitasnya bersifat abadi.
  • Bentuk material dari barang-barang dapat diubah, namun materinya tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan.
  • Tidak ada kehidupan yang kekal.
         Dalam materialisme terdapat 3 pandangan, yakni materialisme mekanik yakni aliran yang pandangan materialismenya mekanis dalam arti selalu adanya gerakan dan perubahan (mekanika), materialisme  metafisik yaitu materialisme yang menganggap bahwa materi itu diam, namun yang membuatnya bergerak adalah faktor dari luar/ekstern, dan materialisme dialektis yaitu aliran yang bersandar pada benda dan metodenya dialektis, dan aliran ini menyangga pendapat materialisme mefisik karena menurut pendapat filsuf aliran ini, pergerakan benda itu tidak dari luar melainkan dari dalam (intern).
Ada beberapa tokoh-tokoh penganut ajaran materialisme ini, antara lain :
  1. Ludwig Feuerbach, ia berpendapat bahwa pada hakikatnya Tuhan itu adalah ciptaan dari angan-angan manusia itu, manusialah Tuhan untuk dirinya sendiri. Pendapat itulah mengapa Feuerbach dianggap sebagai pengikut aliran materialisme.
  2. Karl Marx, ia berpendapat bahwa materi adalah faham serba benda. Mark meyakini bahwa tahap-tahap perkembangan sejarah itu ditentukan oleh keberadaan material.

BAB XIII
PRAGMATISME
Pragmatisme
           Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani “pragma”  yakni tindakan. Pragmatisme adalah aliran  yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis itu semua bisa diterima sebagai kebenaran asalkan bermanfaat atau dengan kata lain, aliran ini berpendapat bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata. Aliran ini muncul pertama kali oleh William James dalam bukunya yang berjudul Pragmatisme (1907) dan The Meaning Of Truth (1909). Kelemahan dari pragmatisme ialah aliran ini lebih menuju pada ateisme, karena pragmatisme tidak mau mengakui suatu yg bersifat metafisika dan kebenarannya. Berarti secara tidak langsung juga tidak mengakui Transedental (Tuhan). Dan kekuatan dari pragmatisme ialah aliran ini telah mendorong manusia berpikir liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada. Pragmatisme telah memberi dorongan pada manusia untuk berlomba-lomba membuktikan suatu konsep melalui penelitian, eksperimen, dan muncullah temuan-temuan baru dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
 Ada beberapa tokoh penganut aliran ini antara lain:
  1. Charles Sandre Peirce, dalam pernyataannya ia ingin menegaskan bahwa pragmatisme bukan sekedar ilmu yang bersifat teori, melainkan lebih cenderung pada tataran ilmu praktis untuk membantu menyelesaikan persoalan manusia.
  2. William James, ia menganggap bahwa tiada kebenaran yang mutlak, sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan senantiasa berubah, karena di dalam prakteknya apa yang dinggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
  3. John Dewey berpendapat bahwa pengalaman adalah keseluruhan drama manusia dan mencangkup segala proses. Dewey merumuskan esensi instrumentalisme pragmatis seabagai “ to conceive of both knowledge and practice s means of making good excellencies of all kind secure in experienced existence”. Yang dimaksud teri instrumentalisme adalah usaha untuk menyusun teori yang logis, tepat dari konsep, pertimbangan,dan alin sebagainya yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan. Dan istilah ini yang membuat teori pragmatisme lebih dikenal sebagai instrumentalisme.

Makalah Tasawuf Akhlaqi-Norma dan Tolak Ukur Akhlaq

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Tasawuf  Akhlaqi adalah suatu ilmu yang membahas tentang perilaku dan tabiat yang merupakan fitroh manusia dengan tujuan untuk mencapai hakikat yang tinggi, berada dekat atau sedekat mungkin dengan Allah dengan jalan mensucikan jiwanya, melepaskan jiwanya dari noda-noda dan perbuatan yang tercela. Tasawuf merupakan perwujudan dari ihsan yang berarti beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Apabila tidak mampu, maka harus disadari bahwa Dia melihat diri kita adalah penghayatan seseorang terhadap agamanya. Dengan demikian tasawuf sebagaimana mestinya pada umumnya, bertujuan mendorong manusia agar selalu berbuat baik dan meninggalkan segala hal yang buruk dan tercela.
Dalam makalah ini, kami akan membahas tentang sumber dan tolak ukur ajaran tasawuf akhlaqi yang dianggap penting. Semoga dengan adanya makalah yang begitu singkat ini, dapat memberikan informasi kepada kita tentang hal-hal yang menjadi sumber ilmu tasawuf akhlaqi sehingga menjadikan kita lebih bersyukur kepada Allah SWT yang telah menjadikan segala sesuatu dengan penuh  hikmah.


Rumusan Masalah
1.      Apa itu norma?
2.      Apa saja norma atau aturan yang mengatur Akhlaq manusia?
3.      Apa Sumber dan tolak ukur akhlaq?
Tujuan
1.      Untuk mengetahui apa itu norma dan aturan.
2.      Untuk mengetahui aturan dan norma yang mengatur akhlaq manusia dalam islam maupun dalam lingkungan masyarakat.
3.      Untuk mengetahui tentang sumber dan tolak ukur akhlaq.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Norma Dasar (Sumber Hukum) Tasawuf Akhlaq
Norma adalah pedoman, ukuran, aturan atau kebiasaan. Jadi secara etimologi norma ialah sesuatu yang dipakai untuk mengatur sesuatu yang lain atau sebuah ukuran. Dengan norma, perilaku baik buruknya seseorang dapat diukur.
       Secara terminologi kita dapat mengambil kesimpulan menjadi dua macam. Pertama, norma menunjuk suatu teknik. Kedua, norma menunjukan suatu keharusan. Kedua makna tersebut lebih kepada yang bersifat normatif. Sedangkan norma-norma yang kita perlukan adalah norma yang bersifat prakatis, dimana norma yang dapat diterapkan pada perbuatan-perbuatan konkret.
Sedangkan akhlak sendiri adalah hal yang terpenting dalam kehidupan manusia karena akhlak mencakup segala pengertian tingkah laku, tabi’at, perangai, karakter manusia yang baik maupun yang buruk dalam hubungannya dengan tuhan dan sesama manusia. Rasulullah saw  bersabda : ” Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah ialah yang paling baik akhlaknya”. Oleh karena itu dengan adanya norma atau aturan-aturan yang berlaku, perilaku atau tabi’at manusia dapat diatur sebagaimana mestinya.[1] Berikut ini adalah norma-norma atau sumber peraturan yang berlaku dalam mengatur akhlaq manusia :
1.    Norma atau Aturan yang Berasal dari Ajaran Islam yaitu Al Qur’an dan As Sunnah
A.    Al Qur’an
“Al Qur’an” menurut bahasa berarti “bacaan” atau yang dibaca. Al Qur’an adalah Masdhar yang diartikan dengan isim maf’ul yaitu “maqru’ ” yang dibaca.
Menurut istilah ahli syara’ Al Quran ialah wahyu Allah SWT. yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. sebagai mu’jizat bagi beliau, wahyu itu diturunkan dalam bahasa Arab dan disampaikan kepada masyarakat ramai secara mutawatir, baik dengan lisan atau tulisan, dan orang yang membaca wahyu mendapat pahala dari Allah.
Allah menurunkan Al Quran secara beransur-ansur, sehingga penurunan seluruhnya memakan waktu selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, yakni mulai dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahiran Nabi SAW. hingga tanggal 9 Dzulhijjah hari haji wada’ tahun ke 10 H. atau tahun 63 dari kelahiran Nabi. Demikian menurut perhitungan Ustadz Muhammad Al-Khudhary Bey.
Al Qur’an terdiri dari 30 juz, 114 surat dan 6236 ayat. Sedang kalimatnya menurut hitungan sebagian ahli 74434 dan hurufnya berjumlah 325345 huruf. Semuanya ini dinukilkan kepada kita secara mutawatir.[2]
Kandungan Al Qur’an mencangkup ajaran-ajaran tentang :
1.      Memperbaiki aqidah dan meluruskan akidah umat yang sudah rusak/binasa oleh kehendak nafsu buruk.
2.    Menetapkan aturan-aturan hukum dalam hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan benda.
3.      Membersihkan hati, sehingga haluan hidup tampak dengan jelas. Karena hati yang bersih akan menumbuhkan perangai-perangai yang terpuji dan akhlaq yang mulia. Allah SWT berfirman : “Hai manusia telah datang kepadamu pelajaran dari tuhanmu dan menyembuhkan bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S.Yunus: 57)

Al Qur’an inilah yang menjadi sumber pertama dan utama dari Tasawuf Islam utamanya Tasawuf Akhlaqi. Dari Al Qur’an ini kita gali pelajaran-pelajaran untuk menjadi obat hati dan penawar jiwa yang sedang menderita penyakit-penyakit riya’, hasad, takabur, ujub, dan sebagainya.
Kandungan Al Qur’an yang lain ialah kisah-kisah umat purbakala seperti kaum ‘Ad, Tsamud dan lain-lain, atau kisah-kisah pribadi seperti kisah para Rasul, Khidhir, Dzul Qarnain dan sebagainya. Yang semua itu untuk menjadi wa’ad dan wa’id atau menjadi targhib dan tarhib yang menggemarkan orang berbuat taat dan menakuti mereka dari berbuat jahat.[3]
Al Qur’an menerangkan sesuatu secara secara global (mujmal) dan secara garis besar (kulli). Dia tidak menerangkan segala sesuatu secara mendetail dan terperinci, as Sunnahlah menerangkan isi Al Qur’an secara praktis dan terperinci. Dengan demikian menjadilah As Sunnah menjadi sumber kedua dari Tasawuf Islam.
Menurut perspektif Syekh Hisyam Kabbani, dalam ayat-ayat tersebut (Al Qur’an) Allah Yang Mahakuasa menyebutkan sifat-sifat khusus kaum sufi (mutashawwif), atau mereka yang sibuk mensucikan diri. Mereka selalu ingat Tuhannya, dengan menyebut nama dan sifat-sifat Nya, dan selalu memelihara shalat mereka. Inilah esensi tasawuf dan juga esensi ajaran islam. Namun, perlu diperhatikan, istilah tasawuf hanyalah istilah teknis, yang dapat diganti dengan istilah apapun yang semakna. Apabila seseorang mengaku muslim dan hendak melaksanakan ajaran islam, ia harus mensucikan dirinya, karena Allah telah memerintahkan hal itu sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an.[4]

B.     As Sunnah
Menurut etimologi bahasa, As Sunnah berarti jalan yang selalu dijalani. Menurut ahli Syara’ Sunnah ialah jalan yang dijalani dalam agama, karena telah biasa dijalani oleh Rasulullah SAW. dan para ulama Salaf yang salih sesudah wafatnya Rasulullah SAW.
Sunnah itu adakalanya qauliyah yaitu segala yang diucapkan oleh Nabi SAW. Adakalanya fi’liyah yaitu segala yang diperbuat oleh Nabi SAW. Untuk syari’at, adakalanya taqririyah yaitu segala perbuatan sahabat dari hadapan Nabi atau Nabi melihat orang mengerjakan sesuatu tanpa ada teguran dari beliau. Dan adakalanya Sunnah itu tarkiyah yaitu sesuatu perbuatan yang mungkin dilaksanakan oleh Nabi, tetapi beliau tidak mau mengerjakannya.
Sunnah itu adakalanya shahih dan adakalanya dha’if. Sunnah/ Hadist sahih ialah yang mempunyai sanad yang bersambung sampai kepada Nabi SAW., semua sanadnya tidak cacad dan matan hadistnyapun tidak bertentangan dengan Al Qur’an. Adapun sunnah/hadist yang dha’if ialah kebalikan dari shahih.[5]
Dalam kedudukannya sebagai sumber As Sunnah mendapat tempat sesudah Al Qur’an, hal ini sesuai dengan hadist yang berbunyi : “Aku tinggalkan padamu dua pedoman, sekali-kali kamu tidak akan sesat sesudahnya selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”.(H.R. Malik).
Al Qur’an dan As Sunnah ini menjadi sumber Tasawuf Islam, sehingga kita tidak memerlukan sumber dari agama Hindu, Kristen, Buddha dan lain-lainnya. Ayat –ayat Al Qur’an penuh dengan mutiara pelajaran untuk membersihkan jiwa dan Sunnah Nabi terang-benderang di hadapan kita untuk menjadi pedoman dalam menuju Tuhan. Tidak ada manusia yang lebih utama dari Nabi Muhammad SAW. untuk dijadikan ikutan. “Sesungguhnya adalah Rasulullah (Muhammad SAW.) itu telah menjadi suri tauladan yang baik bagimu, yakni bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (keselamatan) di hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”. (Q.S. Al-Ahzab : 21).[6]
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa tasawuf dianggap benar manakala tasawuf tersebut bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah, sebaliknya tasawuf dianggap salah kalau bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.[7]

2.    Norma dari Adat Kebiasaan atau Norma Budaya
Masyarakat jawa yang belum mengenal agama islam, mereka telah mengakui ajaran yang di kenal dengan istilah adat kejawen, sehingga perilaku agamanya masih mengikuti adat kebiasaan tersebut hingga saat ini karena aturan-aturan itu masih melekat dalam diri masyarakat. Norma ini juga sangat berpengaruh pada tabiat atau akhlaq manusia di masa  modern ini karena hingga saat ini norma dan aturan ini masih dianut oleh mayoritas masyarakat.
3.    Norma atau Aturan dari Negara (Norma Hukum)
Norma hukum adalah salah satu norma yang mengatur perilaku suatu masyarakat dalam suatu negara yaitu norma-norma yang di undangkan oleh Negara yang berbentuk konstitusi, yang secara hierarkis berlaku dalam proses penyelenggaraan Negara, seperti yang di anut oleh Negara Republik Indonesia bahwa pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum atau undang-undang yang berlaku di Indonesia. Akhlak manusia juga dapat di atur dengan adanya peraturan yang telah di tetapkan pemerintah, sebagai warga negara yang baik haruslah menaati aturan-aturan yang berlaku pada negara tersebut.  Jika tidak, maka akan adanya sanksi yang akan di peroleh para pelanggar aturan tersebut.[8]

B.  Sumber dan Tolak Ukur Akhlaq
Dalam konsep akhlaq, yang dimaksud dengan sumber akhlaq adalah yang menjadi ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela. Sebagaimana keseluruhan ajaran Islam, sumber akhlaq adalah Al Qur’an dan Sunnah, bukan akal pikiran atau pandangan masyarakat.
Apakah Islam menafikan peran hati nurani, akal dan pandangan masyarakat dalam menentukan baik dan buruk? Atau dengan ungkapan lain dapatkah ketiga hal tersebut dijadikan ukuran baik dan buruk?.[9]
Hati nurani atau fitrah dalam bahasa Al Qur’an memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki fitrah bertauhid, mengakui ke-Esaan-Nya(QS. Ar-Rum 30:30). Karena fitrah itulah manusia cinta kepada kesucian dan selalu cenderung kepada kebenaran. Hati nuraninya selalu mendambakan dan merindukan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Tuhan, karena kebenaran itu tidak akan didapat kecuali dengan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak. Namun fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena pengaruh dari luar, misalnya pengaruh pendidikan dan lingkungan. Fitrah hanyalah potensi dasar yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Betapa banyak manusia yang fitrahnya tertutup sehingga hati nuraninya tidak dapat lagi melihat kebenaran. Oleh sebab itu ukuran baik dan buruk tidak dapat sepenuhnya hanya kepada hati nurani atau fitrah manusia semata. Harus dikembalikan kepada penilaian syara’. Semua keputusan syara’ tidak akan bertentangan dengan hati nurani manusia, karena keduanya berasal dari sumber yang sama yaitu Allah SWT.[10]
Demikian juga halnya dengan akal pikiran. Ia hanyalah salah satu kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan atau keburukan. Dan keputusannya bermula dari pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan pengetahuannya. Oleh karena itu keputusan yang diberikan akal hanya bersifat spekulatif dan subjektif.
Demikianlah tentang nurani dan akal pikiran. Bagaimana dengan pandangan masyarakat? Pandangan masyarakat juga bisa dijadikan salah satu ukuran baik dan buruk, tetapi sangat relatif, tergantung sejauh mana kesucian hati nurani masyarakat dan kebersihan pikiran mereka dapat terjaga. Masyarakat yang hati nuraninya sudah tertutup dan akal pikirannya sudah dikotori oleh sikap dan perilaku yang tidak terpuji tentu tidak bisa dijadikan ukuran. Hanya kebiasaan masyarakat yang baiklah yang bisa dijadikan ukuran.
Dari uraian di atas jelaslah bagi kita bahwa ukuran yang pasti, tidak spekulatif, objektif, komprehensif dan universal untuk menentukan baik dan buruk hanyalah Al Qur’an dan As Sunnah, bukan yang lain-lain.[11]



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Norma ialah sesuatu yang dipakai untuk mengatur sesuatu yang lain atau sebuah ukuran. Sedangkan akhlak sendiri adalah hal yang terpenting dalam kehidupan manusia karena akhlak mencakup segala pengertian tingkah laku manusia yang baik maupun yang buruk dalam hubungannya dengan tuhan dan sesama manusia. Dalam tasawuf akhlaqi ada beberapa sumber aturan dan norma yang dapat dijadikan acuan dalam mengukur akhaq dan perbuatan manusia, yang antara lain dari agama Islam sendiri yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.
Al Qur’an adalah wahyu Allah SWT. yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. sebagai mu’jizat bagi beliau, wahyu itu diturunkan dalam bahasa Arab dan disampaikan kepada masyarakat ramai secara mutawatir, baik dengan lisan atau tulisan. Sedangkan As Sunnah ialah jalan yang dijalani dalam agama, karena telah biasa dijalani oleh Rasulullah saw. Dan para ulama Salaf yang salih sesudah wafatnya Rasulullah saw. Al Qur’an dan As Sunnah merupakan tolak ukur utama dalam membangun akhlaq.
Ada pula norma Adat yaitu aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat yang hingga kini masih diakui dan di taati oleh suatu masyarakat. Di Indonesia juga menerapkan aturan dan norma hukum yang mengatur segala tindak tanduk perbuatan warga negara itu. Namun dalam akhlaq adapula ukuran atau tolak ukurnya, yang pasti (tidak spekulatif), objektif, komprehensif dan universal untuk menentukan baik dan buruk akhlaq manusia hanyalah Al Qur’an dan As Sunnah, bukan yang lain-lain.
Norma/ aturan dan adanya tolak ukur akhlaq ini sangat berpengaruh akan segala perilaku manusia utamanya umat muslim yang merupakan mayoritas masyarakat di Indonesia. 





[1] http://duniakampus7.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-etika-moral-norma-nilai-akhlaq.html, di akses pada tanggal 31 Oktober 2016 pukul 16.36.
[2] Yunasril Ali, Pengantar Ilmu Tasawuf (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987) hal. 23.
[3] Ibid., hal. 24.
[4] Zaprulkhan, Ilmu Tasawuf (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2016) hal. 23.
[5] Yunasril Ali, Pengantar Ilmu Tasawuf (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987) hal. 25-26.
[6] Ibid, hal 27
[7] Cecep Alba, Tasawuf dan Tarekat (Bandung:  PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2014) hal. 28.
[8] http://darmasitorus.blogspot.co.id/2011/10/nilai-dan-norma.html?m=1, di akses pada tanggal 6 November 2016 pukul 9.32.
[9] Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1999) hal. 4.
[10] Yunahar Ilyas , loc.cit.
[11] Ibid., hal. 5.